Arsip untuk Desember, 2008
Diproteksi: L-D-N?
Diterbitkan Desember 25, 2008 opini Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentarTags: sikap
Pertanyaan ‘kenapa’ lazim ditanyakan untuk mencari tahu alasan yang menyebabkan terjadinya suatu hal. Pertanyaan kenapa juga seringkali menjadi pertanyaan yang sulit dijawab, dan ada kalanya juga pertanyaan ini ditanyakan tanpa mengharapkan jawaban.
Memangnya kenapa?
live to ride, ride to live
Diterbitkan Desember 21, 2008 artikel Tinggalkan a KomentarTags: idiom, motor, tidak penting
Disclaimer:
judul untuk entri ini diambil dari sebuah entri milik mas Surjay
adapun isi dari entri ini tidak mengambil entri milik orang yang bersangkutan
adapun isi dari entri ini merupakan usaha sinkronisasi antara pikiran abstrak penulis dengan pengejawantahannya dalam media tulisan (baca: membosankan dan ngalor-ngidul). Jadi apabila anda tidak ridha untuk membuang-buang waktu dengan membaca tulisan ini, silahkan tekan CTRL+W dan anda akan dibebaskan dari api neraka opsi membaca sisa dari entri ini
* * *

Live to Ride, Ride to Live
Live to ride, ride to live adalah sebuah ungkapan yang dirasa pas untuk menggambarkan perasaan senang dan ‘menyatu’ yang terjadi antara seorang pengendara motor dan motor yang dikendarainya. Tentunya perasaan menyatu disini tidak secara harfiah seperti pensil dengan penghapusnya ataupun seperti Master P yang digabung paksa dengan Nero dalam kisah Super Saint Phoenix. Menyatu disini hanyalah secara mental (meski motor tidak punya mental) atau tidak lebih dari idiom biasa.
Perasaan menyatu penting adanya untuk memaksimalkan performa seseorang ketika mengendarai sepeda motor. Karena, seperti pengalaman pribadi penulis, mengendarai sepeda motor butuh konsentrasi dan kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda. Bahkan, lebih menuntut keseimbangan dibandingkan mengendarai mobil. Oleh karena itulah, agaknya untuk menjamin terjadinya performa maksimal, perlu dilakukan beberapa treatment psikologis antara si empunya motor dengan motornya tersebut. Salah satu cara pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan konsep self-ekstension terhadap motor yang bersangkutan.
Konsep self-extension secara sempit dapat dipahami sebagai sebuah implikasi sederhana dari individu terhadap barang-barang yang dimilikinya. Dalam bahasa yang lebih awam, konsep ini mungkin dapat diistilahkan sebagai sebuah personalisasi. Self-extension terjadi ketika seseorang memberikan, atau memasukkan sebagian ciri khas atau aspek dari dirinya terhadap barang-barang kepunyaannya. Contoh konkritnya, terkait dengan ungkapan live to ride, ride to live ini adalah dengan mempersonalisasi motor milik si pengendara tersebut. Misalkan sang empunya motor menyukai warna hitam dan kuning, maka dia akan membuat motornya berwarna sesuai dengan warna kesukaannya tersebut. Self extension, dalam hal ini tidak hanya membantu sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi pemilik suatu barang dari ciri yang terdapat pada barang tersebut, juga sebagai salah satu sarana bagi si pemilik untuk mengidentifikasikan benda kepemilikannya dengan dirinya, atau seperti yang sudah disebut sebelumnya, menyatu antara motor dengan pengendaranya.
Tentunya setelah adanya semangat atau rasa bahwa motor dan pengendara adalah satu kesatuan, yang perlu dilakukan tinggal mengendarai motor tersebut, dan berusaha untuk menikmati proses pengendaraan motor selagi berkendara dengan motor tersebut. Karena, itulah inti dari ungkapan live to ride, ride to live tersebut, yaitu saat dimana mengendarai motor tidak hanya dipandang sebagai suatu proses untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah proses yang penuh arti yang tidak hanya melibatkan kemampuan menjaga keseimbangan, mengatur gas, rem, dan hal-hal teknis lainnya, melainkan juga terlbatnya sebuah proses penghayatan dan emosional yang terjalin antara si pengendara dan motor yang dikendarainya, sehingga terjadilah suatu perasaan senang dan bahagia ketika si pengendara sedang mengendarai sepeda motornya tersebut.
Terkait dengan pengendaraan motor tersebut, beragam orang tentunya memiliki beragam cara dalam mengendarai motornya masing-masing. Salah satu aspek teknis dari pengendaraan sepeda motor yang paling menarik adalah mengenai kecepatan ketika berkendara. Sebagian orang mungkin menganut paham sesat yang beranggapan bahwa mengendarai motor dengan kecepatan dibawah 80 km/jam adalah sebuah dosa besar dan pengkhianatan bagi para produsen sepeda motor yang telah menciptakan batasan kecepatan yang jauh lebih tinggi, sedangkan sebagian lainnya ada juga yang menganut kepercayaan ‘biar lambat asal selamat’ yang mana kecepatannya ketika berkendara dapat membuat frustrasi para penganut kepercayaan pertama.
Kesimpulannya, konsep live to ride, ride to live adalah sebuah perpaduan yang dinamis yang melibatkan variabel pengendara motor, motor itu sendiri, berbagai teknik, aspek psikologis, dan juga adanya sebuah penghayatan yang pada akhirnya memayungi keseluruhan aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun penghayatan tersebut dimunculkan dari sebagian aspek tersebut. Perihal yang mana yang memunculkan yang mana, itu tidak perlu dipermasalahkan. Hasilnya adalah sebuah harmoni yang terjadi ketika seseorang mengendarai motor.
…
*baca tulisan sendiri dari awal sampai akhir, geleng-geleng kepala*
o-n-a-s-i
*bingung*



