
ini bukan di Indonesia
Sekarang ini, saya agak bingung dengan malam pergantian tahun yang sepertinya dirayakan di nyaris setiap penjuru (apakah Israel dan Palestina dikecualikan? entahlah). Sepertinya semua orang bangun dan tetap sadar hingga tengah malam, bahkan sampai pagi. Ada kembang api, konser musik, terompet, dan lain sebagainya. Jangan lupakan juga tumpukan sampah yang menggunung di daerah-daerah pusat konsentrasi massa yang merayakan pergantian tahun ini.
Padahal, kalau mau dipikir-pikir, apa yang mau dilihat? Ketika tengah malam, tidak ada seberkas cahaya yang muncul tiba-tiba dari tengah langit dan berkata,
behold, the new year has come!!!
Dan pagi harinya, setiap satu januari, atau hari pertama di setiap tahun, tidak ada perubahan berarti dibanding dengan hari sebelumnya. Maksudnya, mataharinya tidak berubah warna jadi hijau atau ungu, terbitnya pun masih dari timur. Dan berbagai macam fenomena lainnya yang, tidak berbeda dengan hari, bulan, bahkan tahun-tahun sebelumnya.
Sedangkan dari segi sejarah, sepanjang perjalanan tahun Masehi (yang mana berarti sekarang telah memasuki usia ke-2009) yang selama 5 abad belakangan menggunakan sistem penanggalan Gregorian, tidak ada kejadian khusus yang membuat tanggal 1 Januari patut untuk dirayakan setiap tahunnya. Kalaupun ada, yang paling mendekati adalah keputusan sebagian negara-negara eropa yang mengganti awal tahun mereka menjadi 1 Januari (tadinya negara-negara tersebut menetapkan tanggal yang berbeda-beda sebagai awal tahun mereka). Kemudian bangsa-bangsa di eropa melakukan eksplorasi dan ekspansi ke benua-benua lain atas nama 3G, dan lambat laun budaya mereka diadaptasi oleh penduduk koloni mereka. Dan begitulah hingga akhirnya seluruh dunia merayakan tahun baru ini.
Tapi tetap saja, itu hanya perayaan belaka. Didukung oleh seluruh dunia yang mencocokkan periodisasi kerja mereka dengan kalender Gregorian. Dan akhirnya, berdasarkan fenomena tersebut, saya mendapatkan jawaban yang memuaskan atas kebingungan saya.



