Dibawah ini adalah gambar rak buku. Perhatikan baik-baik.

Kalau mau dianalogikan, kondisi kepala kita (atau setidaknya-saya sendiri) mirip dengan rak buku itu, dimana otak adalah lemari dan informasi serta pengetahuan merupakan bukunya. Tentunya, masing-masing buku ada tempatnya sendiri-sendiri, dengan kata lain, ada kategorisasi – mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Perihal standar kategorisasi dan buku ini, karena yang punya kepala adalah yang memegang kekuasaan absolut terhadap isi kepalanya, jadi cara penyimpanan buku tersebut berbeda-beda pada tiap orang.
Orang yang praktis, hanya mengambil informasi yang berguna bagi dirinya, sementara yang lainnya diabaikan. Orang yang agak bodoh, mengambil semua informasi; baik yang berguna maupun yang tidak ada artinya bagi dirinya sama sekali. Orang yang lebih bodoh, tidak mengambil apa-apa.
Meski mungkin perumpamaan diatas agak berlebihan, tapi setidaknya bisa cukup menggambarkan mengenai kebijakan masing-masing individu dalam mengambil informasi dan menyimpannya, karena tidak tertutup kemungkinan bahwasanya informasi tersebut bisa hilang, atau dalam bahasa aplikatifnya, terlupakan. Dengan kata lain, kedua proses ini-pengambilan informasi dan penyimpanan, merupakan hal yang sama pentingnya (dengan asumsi informasi yang diambil tentunya akan digunakan lagi, terlepas dari seberapa sering informasi tersebut dipergunakan).
Faktanya, pengaturan informasi itu jauh lebih sulit daripada mengambil informasi. Logikanya, sih, kita punya setidaknya lima sumber informasi yang bisa diandalkan (baca: mata, hidung, telinga, lidah, kulit) namun hanya ada satu tempat (otak) untuk menyimpan dan mengolah keseluruhan informasi yang didapat dari masing-masing sumber.
Bahkan, terkadang informasi-informasi tersebut bisa keluar dengan sendirinya tanpa kehendak otak, yaitu dengan adanya pemicu (cues) yang secara operasionalnya, memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pemikiran dengan cara mengaitkan beberapa kejadian atau informasi hanya dari satu hal sederhana. Kalau begini, jatuhnya jadi melamun, pikiran melayang kemana-mana hingga terkadang lupa sama sekali akan cues yang mengawali lamunan tadi.
Adapun satu buah contoh akan memberikan pemahaman yang mengalahkan ribuan kata-kata penjelasan. Kalau saya mengingat tentang Johannes Brahms, otomatis saya akan mengingat komposisi Hungarian Dance #5; dan dari komposisi tersebut, saya teringat akan film Dracula: Dead and Loving It dan juga buku The Turk and My Mother. Dan seterusnya, dan seterusnya. Bagannya sendiri kira-kira akan seperti ini:
Nah, sekarang, karena kekacauan yang sedang terjadi di lemari saya (yang di kepala FYI), akhir-akhir ini saya jadi banyak berpikir macam-macam, termasuk informasi-informasi tidak penting yang dengan sengaja dimasukkan. Bahkan, beberapa informasi yang teronggok di sudut tergelap lemari pun berhasil merangsek keluar dengan penuh harap, hingga implikasinya adalah, saya mengingat kembali beberapa hal yang sudah lama dilupakan. Sederhananya, semacam nostalgia- tapi tidak seperti nostalgia yang terjadi pada umumnya, karena hal ini terjadi secara kebetulan. Ah, bukankah semua orang juga pernah merasakan hal seperti ini? Jadinya saya tidak perlu menggerecoki kepala-kepala malang yang membaca tulisan ini dengan penjelasan panjang lebar dalam tulisan yang tata bahasanya jadi berantakan begini.
Lagi, sebuah contoh akan berbicara lebih baik dibandingkan penjelasan panjang lebar. Sejujurnya, banyak hal yang sedang terjadi di kepala saya saat ini, tapi kalau dijelaskan satu demi satu, terlalu panjang dan rumit. Jadi, ambil jalan pintas saja.
Berikut ini adalah sebuah video dari They Might Be Giants. Sebuah lagu. Judulnya “Istanbul”. Tidak perlulah dijelaskan bagaimana bisa sampai ke klip kreatif ini. Nikmati saja sajian kolaborasi animasi 2 dimensi dengan clay animation ini.
*bongkar lemari lagi*





0 Tanggapan ke “Rak Buku”