Pernah dengar istilah FUBAR? Kalau belum, tenang saja. Jangan langsung rendah diri. Di sini ada tautan yang bisa diklik, tapi nanti saja kliknya, soalnya ada sedikit kisah yang diawali -dan juga diakhiri- oleh fubar celaka ini.
Jadi begini. Kalau anda bisa baca entri ini, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Yang pertama adalah anda sedang berada di dekat monitor yang saya pakai untuk ngetik; atau anda membaca entri yang sudah dipublish. Yang pertama jelas tidak mungkin, sehingga kemungkinan yang tersisa tinggal yang kedua. Sederhana, kan?
Sebenarnya hanya ada pertanyaan singkat yang ingin ditanyakan melalui entri ini. Tentunya bukan pertanyaan yang sudah anda baca di awal tulisan ini. Masalahnya, kalau harus bersusah-susah untuk bikin entri yang hanya berisi satu pertanyaan, rasanya saya kok tidak rela. Mungkin sesuai dengan prinsip ekonomi, yang “dengan usaha sekecil mungkin, mendapatkan keuntungan sebesar mungkin” itu.
Jadilah saya mengkonstruk sebuah kerangka berpikir yang sederhana. Masalahnya, ketika berhadapan dengan halaman dibawah ini,
FUBAR mengambil alih, dan semua kerangka berpikir… hilang. Padahal, tadinya saya ingin mengangkat sebuah topik tentang orang mesir kuno. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa peradaban mesir kuno adalah salah satu peradaban yang mendapat tempat tersendiri di sejarah dunia. Sama halnya dengan babilonia, uruk, arab, hittite, persia, jericho, romawi, bizantium, aztec, inca, maya, cina, dan tokoh-tokoh seperti Hamurrabi, Ashurbanipal, Alexander, Caesar, Ashoka, dan lain sebagainya.
Beberapa peninggalan mesir kuno yang masih bisa dinikmati sampai saat ini, antara lain sphinx, piramid, serta beberapa artefak dan lukisan. Beberapa peradaban lain juga meninggalkan peninggalan yang tidak jauh berbeda -dan tidak kalah hebatnya, tentu saja.
Lantas, bagaimana bisa sampai ada istilah ‘walk like an egyptian‘? [gambar] Kenapa tidak walk like a babylonian, atau walk like the hittitian?
Kira-kira siapa yang memperkenalkan istilah ini?





