It’s because the world’s in the hand of scum like them that it’s screwed to all hell… Don’t they even realize that? I mean, we’re not the nicest of guys, but at least we have our charming side.
Kalimat di atas terucap ketika melihat -katakanlah- penyalahgunaan kekuasaan [link]. Syahdan, yang mengatakan itu adalah seseorang yang jelas tidak akan diterima dengan tangan terbuka di komunitas beradab yang cinta damai. Penjahat, kalau mau dibilang seperti itu. Tapi kan ada ungkapan kuno yang menasehati agar kita lebih melihat pesan daripada sang penyampainya, lagipula yang namanya pelajaran itu toh bisa diambil dari mana saja, kan?
Kembali lagi ke bahasan awal, adegan yang melibatkan kata-kata di atas memang terjadi di komik, namun situasinya bisa dibilang mirip dengan dunia nyata yang kita huni saat ini. Dalam hal ini, sewajarnya kita tidak menutup kemungkinan perihal apa yang ada di komik yang bersangkutan merupakan perwujudan dari pandangan sosio-politik dari sang pengarang, namun pandangan si pengarang, yang diejawantahkan melalui karakter-karakter dalam komiknya itu merupakan hal yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Menarik, setidaknya buat saya pribadi.
Terutama masalah jahat dan baik. Sejatinya, para penguasa -yang normalnya mengendalikan hajat hidup rakyatnya- merupakan figur yang menjadi tumpuan banyak orang. Dan idealnya, mereka yang menjadi figur-figur semacam itu adalah orang-orang yang baik. Baik dalam artian segala hal, mulai dari perkataan, perbuatan, moral, dan hal-hal lainnya.
Di sisi lain, ada mereka yang merupakan oposisi dari orang-orang baik. Sebut saja mereka ini sebagai orang-orang jahat. Sesuai dengan namanya, ya dari segi pikiran, perkataan, perbuatan, dan segala ember-embelnya, mereka ini seharusnya jahat. Bukan apa-apa, semata agar dapat menciptakan image jahat yang benar-benar jahat. Konsisten, lah. Baik ya baik, jahat ya jahat.
Sayangnya, konsistensi dan komitmen merupakan dua dari sekian banyak hal yang sulit dipertahankan dalam sejarah peradaban manusia. Bukannya itu merupakan hal yang buruk, karena dengannya kehidupan bisa jadi lebih dinamis, tapi tidak bisa dibilang merupakan hal yang baik juga. Masalah inkonsistensi ini juga terjadi pada mereka yang dilabeli sebagai orang-orang baik dan jahat. Tidak jarang ada orang jahat yang bertingkah laku baik, dan juga sebaliknya orang baik yang bertingkah laku jahat.
Ah, kalau dipikir begini, jadinya baik dan jahat itu lebih ke kontinum alih-alih polarisasi. Tapi setidaknya kan mereka yang sudah dilabeli sebagai baik atau jahat sebaiknya bertingkah laku sesuai dengan ekspektansi umum terhadap label sosialnya, ya kan? Dan sekarang, bicara mengenai ekspektansi sosial, hal itu juga bisa menjadi variabel penentu apakah seseorang itu jadi baik atau jahat. Semenjak semua orang di dunia ini hidup dalam tatanan nilai dan kepercayaan yang berbeda satu sama lainnya, tentunya perbedaan itu juga mencakup batasan-batasan atau prasyarat yang menjadikan seseorang itu baik atau jahat.
Ambil saja contoh, Robin Hood. Seorang bangsawan yang kehilangan seluruh kekayaannya dan menemukan bahwa tanah airnya berubah 180 derajat setelah pulang dari perang salib. Yang dia lakukan: merampok bangsawan, memimpin kelompok gerilya dan membagi-bagikan harta rampokan kepada orang-orang miskin. Bagi orang miskin, bisa dibilang si Robin Hood ini merupakan orang baik. Tapi di sisi lain, dia adalah seorang perampok. Dan seorang perampok memiliki stigma sosial yang cukup negatif di kebanyakan masyarakan di dunia. Tapi begitulah, selalu ada alasan untuk melakukan segala sesuatu, bahkan untuk hal-hal paling keji sekalipun.
Pada intinya, agaknya tulisan ini juga tidak bisa dilepaskan dari pandangan sosial-politik. Apalagi melihat kutipan yang sudah ditaruh di awal tulisan ini. Memang ada benarnya, bahwasanya sebagian orang-orang yang memiliki kewenangan di masyarakat -entah itu aparat, penguasa, atau pemangku adat- cenderung menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki untuk alasan pribadi. Mungkin tidak ingin kehilangan status yang membuat mereka berada di strata sosial yang lebih tinggi, mungkin gila hormat, dan berbagai alasan lainnya. Masalahnya, penyalahgunaan kekuasaan, apalagi jika kekuasaan yang disalahgunakan berada di tingkat yang sangat tinggi, bisa membawa implikasi yang sangat serius. Konsekuensinya pun tidak main-main. Sudah banyak kepala yang terpisah dari tubuh karena hal-hal semacam ini
Kalau begini, bukankah lebih enak jadi penjahat saja? Pada akhirnya toh memang penjahat itu bukan merupakan sesuatu yang dipandang baik. Dari awal pun sudah disosialisasikan bahwa kejahatan pasti mendapatkan balasan yang setimpal, dan balasan tersebut biasanya datang dalam bentuk yang tidak baik. Tapi toh tetap saja sebagian orang memilih untuk menjadi penjahat meski megnetahui konsekuensinya. Setidaknya mereka konsisten dan bersedia menanggung resiko.
Ha-haa. Hanya tulisan iseng yang dibuat untuk mengisi waktu. Tolong dimaklumi kalau idenya loncat-loncat. Tapi tetap saja, siapa tahu ada gunanya.




0 Tanggapan ke “Quote of The Day”