Akui saja, beberapa negara -tidak mengecualikan negara kita tercinta ini- belumlah berada dalam kemakmuran dan kesejahteraan, betul?
Dari pernyataan di atas, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa mendasari mandeknya perjalanan negara yang bersangkutan menuju kemakmuran. Salah satunya soal para pemimpin negara yang bersangkutan. Bukan apa-apa, menurut sebagian orang, nampaknya mereka-mereka yang diberi kesempatan untuk memimpin negara ini -dan juga beberapa negara lain yang senasib dengan kita- dianggap kurang cakap, atau kurang tahu bagaimana memimpin dan mengatur sebuah negara. Alhasil, seperti yang Anda-anda semua ketahui dengan baik, negaranya berantakan.
Lantas, memangnya siapa yang benar-benar mengerti bagaimana cara memimpin dan mengatur negara? Kalau sebut nama, sih, susah. Selain jarang (malah mungkin hampir tidak ada), takutnya saya akan dianggap kampanye terselubung.
Lucunya, ada pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka yang tahu cara mengurus negara itu terlalu sibuk untuk menyupir taksi dan mencukur rambut. Dengan kata lain, para supir taksi dan kapster-kapster salon itu merupakan orang-orang yang tahu bagaimana caranya mengatur sebuah negara, betul? Alasannya pun cukup sederhana, selagi melakukan tugas dan berinteraksi dengan pelanggan, mereka selalu mengutarakan pandangannya tentang situasi dan kondisi politik negara, bahkan tidak jarang mengemukakan saran-saran yang (mungkin) solutif.

orang ini mungkin lebih ahli daripada presiden. Tidak hanya dalam memotong rambut, tapi mungkin juga dalam mengurus negara



