Kecuali Anda hidup dengan cara yang sangat berbeda dari masyarakat pada umumnya, Anda pasti sangat kenal dengan benda yang ada di gambar samping ini. Bukan guci coklat bodoh itu, melainkan cermin yang terletak di hadapannya.
Sepanjang pengetahuan saya, yang dengan rendah hati saya nyatakan masih sangat terbatas cakupannya, cermin merupakan salah satu media yang paling bagus dalam merefleksikan suatu benda. Meski hanya bersifat dua dimensi, tapi kondisi refleksinya benar-benar mendekati nyata. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang senang bercermin? Entahlah, saya kurang begitu tahu.
Akan tetapi, refleksi itu tidak hanya bisa dilakukan oleh cermin. Tindak-tanduk seseorang juga bisa disebut refleksi. Bukan dari kondisi dirinya yang dapat dilihat secara gamblang, akan tetapi dari pengalaman, pandangan hidup, dan lain sebagainya yang sifatnya tidak terlihat.
Ya, benar. Refleksi dari pengalaman. Termin yang jadi titik tekan entri kali ini setelah beberapa lama gagal update.
Terkait dengan pengalaman, ada beberapa kata-kata manis yang mengagung-agungkan pengalaman ini. Salah satunya, mungkin sudah sering kita dengar, yang menyatakan kalau pengalaman itu adalah guru yang terbaik. Atau dalam versi english-nya, experience is the best teacher. Alasannya (menurut hemat saya) sederhana saja, mungkin karena pengalaman yang agung itu memberikan pelajarannya lewat situasi kehidupan yang real time, bukan sesuatu kondisi yang penuh manipulasi dengan jawaban dan solusi yang terprogram (kalau tidak mau dibilang terdoktrin) yang merupakan warisan dari generasi sebelum kita.
Dan kalau masih belum cukup, implikasi dari pengalaman yang agung ini juga termaktub di dalam kata-kata manis yang lain, meski tidak secara eksplisit. Sebut saja perihal padi yang katanya makin merunduk ketika isinya makin banyak. Secara analogi itu ‘kan bisa (juga) ditafsirkan sebagai orang yang semakin merendah seiring dengan bertambahnya pengalaman (intelektual)-nya, iya toh?
Untungnya, berkat kemampuan kognitif manusia yang luar biasa hebatnya, kita mampu melihat satu fenomena dari berbagai sudut pandang. Agar tidak terjebak dalam interpretasi semu yang kemungkinan besar akan menyesatkan kita, tentu saja. Secara sederhana, yang ingin saya sampaikan di sini adalah, ada juga kata-kata manis lain yang tidak se-afirmatif itu dengan konsep pengalaman yang agung ini. Sebuah kontradiksi?, kalau mau disebut seperti itu.
Salah seorang tokoh, yang sayangnya namanya sudah lama sekali saya lupakan, pernah berkata bahwa yang namanya pengalaman itu, alih-alih guru yang baik, justru merupakan guru yang buruk. Seburuk-buruknya guru. Alasan yang dia kemukakan adalah, karena si pengalaman yang agung itu terlebih dahulu memberikan ujian, baru kemudian memberikan pelajarannya yang sangat terkenal itu. Bisa dibilang konsep pengalaman yang dikemukakan tokoh yang satu ini mungkin masih erat kaitannnya dengan konsep trial and error. Hanya saja, mungkin error-nya lebih sering terjadi, sehingga mau tidak mau harus lebih sering mengulang proses trial.
: :
Baik. Agaknya pembahasan mengenai sudut pandang terhadap pengalaman bisa dicukupkan sampai di sini. Saya rasa Anda sekalian, para pembaca yang terhormat, sudah bisa memaklumi pandangan-pandangan yang saya jabarkan, baik itu yang mengagung-agungkan maupun yang, er, tidak sependapat dengan mereka yang mengagungkan pengalaman. Toh sebenarnya tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggiring Anda untuk menyetujui salah satu pandangan.
Karena bagi saya, seperti apapun sikap orang terhadapnya, tetap saja yang namanya pengalaman itu merupakan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang terefleksi dari tindak-tanduk orang-orang di sekitar kita, bahkan di tindak-tanduk kita sendiri. Dan yang lebih menyenangkan lagi, mereka yang punya banyak pengalaman selalu bisa menjadi bahan pelajaran yang sangat baik. Selain menjadi storyteller yang punya stok cerita segudang, tentu saja.
.
.
.
Baik. Entri ini sudah selesai. Lebih karena malas melanjutkan dibanding sudah selesai secara harfiah. Masa bodoh! Huahahahahaha!





Selalu ada yang menarik, yang membuat ingin membacanya lebih dari sekali:
1. guci bodoh
Mengapa guci di foto mesti dianggap bodoh, sih? Frasa menarik karena mengundang pertanyaan, walau hal tersebut tidak perlu ditanyakan, dan pertanyaannya tidak memerlukan jawaban.
2. kata-kata manis
Pepatah ya, maksudnya. Istilah artifisial yang sangat menarik, dan membuat pembaca mengangguk-angguk sendiri lalu berkata dalam hati: iya ya pepatah itu kebanyakan manis-manis, makanya berkesan.
3. agung, diagung-agungkan
Bentuk hiperbola yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dibuat hiperbolis, benar-benar menarik untuk dibaca lagi.
Belajar nulis di mana, sih???
Walaupun gagasannya sering meloncat-loncat dan diakhiri dengan tulisan yang bikin melongo karena ngga selesai, tapi keren e..
Membaca tulisan-tulisanmu benar-benar memberikan PENGALAMAN dalam dunia baca-tulisku, Zulfan. Terima kasih. Hoho.
ho…
terima kasih kembali ya,
otodidak. lagipula hampir semua entri di sini kebanyakan sistemnya ketik-post-tinggalkan. makanya malas ditengok lagi dan diteliti baik-baik